Katalog Publikasi

Beberapa publikasi Institut Dayakologi yaitu :

1 “Anak Tiri” yang Marjinal; 21 MENOLAK TAKLUK
2 ADAT DALO 22 Modul Pendidikan Perdamaian
3 Agama dan Budaya Dayak 23 MOZAIK DAYAK
4 AMUK SAMPIT PALANGKARAYA 24 Mutiara damai dari Kalimantan
5 BAUK DAN PAMPAN 25 NE BARUAKNG KULUB
6 BIDIK MENGGALING 26 PANEN BENCANA KELAPA SAWIT
7 DAYAK BUKIT 27 Pelajaran Dari Masyarakat Dayak
8 Dayak Jalai di persimpangan jalan 28 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
9 DAYAK SAKTI 29 Pendidikan Multikultur
10 Dokumen Internasional dan Nasional tentang Masyarakay Adat 30 Pengetahuan Adat dan Tradisi Dayak Jalai
11 HUTAN TERUMBU KARANG DALAM PENGUASAAN MASYARAKAT ADAT 31 PERLAWANAN RAKYAT DI HUTAN KALIMANTAN
12 INDIGENOUS PEOPLES AND LAND-USE POLICY IN INDONESIA 32 Sabunzu Sarokng Antu
13 JURNAL DAYAKOLOGY,VOL. 33 Sekilas Perkawinan Dayak Mualang
14 KALIMANTAN BUMI YANG KAYA MAKANAN 34 SEMPEILAU
15 KEBUDAYAAN DAYAK 35 SI BUNSUQ
16 KEDAULATAN MASYARAKAT ADAT YANG TERANIAYA 36 SISI GELAP KALIMANTAN BARAT
17 KODA RAGAPM 37 THE DOMINANT PARADIGM
18 MANUSIA DAYAK 38 TRADISI LISAN DAYAK
19 MASYARAKAT ADAT DI DUNIA
20 MENCERMATI DAYAK KANAYATN
Posted in Pusataka | Leave a comment

Gallery | Leave a comment

Sistem Pengetahuan

Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan ini diperoleh melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan (trial and error).

Seperti halnya suku bangsa lainnya di dunia, suku Dayak juga memiliki sistem pengetahuan sendiri. Adapun sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat Dayak meliputi:

  • Pengetahuan tentang alam
  • Pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan
  • Pengetahuan tentang tubuh, sifat dan tingkah laku sesama manusia
  • Pengetahuan tentang ruang dan waktu 
Posted in Sistem Pengetahuan | Leave a comment

Mata Pencaharian

Mata pencaharian orang Dayak selalu ada hubungannya dengan hutan. Karena sebagian besar aktivitas masyarakat di lakukan di dalam hutan seperti berburu dan meramu, bercocok tanam, perikanan, peternakan dan sebagainya. itulah sebabnya keberadaan hutan sangat berperan penting terhadap kelangsungan hidup orang Dayak. orang-orang dayak juga memiliki kearifan dalam mengelola hutan mereka.

Posted in Mata Pencaharian | Leave a comment

Sistem Kepercayaan

Sistem kepercayaan “asli” yang danut orang Dayak dikenal dengan istilah Agama Adat Dayak. Namun seiring dengan semakin majunya jaman, keberadaan agama adat Dayak-pun ikut mengalami degradasi terutama setelah masuknya agama-agama resmi yaitu agama yang diakui oleh negara.

Agama

Menurut jane Monning Atkinson (2002:5), “agama”, adalah istilah untuk “religion” dalam bahasa Indonesia. Dia Menegaskan bahwa konsepagama itu sendiri adalah tambahan yang agak baru kedalam budaya dari negeri kepulauan ini.Istilah Agama diambil dari istilah sansekerta agama yang mengkonotasikan sesuatu yang agak berbeda dengan arti agama yang sekarang bagi orang Indonesia atau “religion” bagi orang barat. Sebagaimana dicatat oleh Chaudhuri (1999:19 via Atikson, 2002:35) peradaban India secara tradisional tidak memiliki sebuah kata untuk “religion” seperti yang dipahami di Barat sekarang ini. Istilah agama dalam bahasa Sansekerta memiliki dua arti. Pertama ia merujuk kepada “sebuah ajaran, doktrin, kumpulan ajaran, kumpulan doktrin yang seperti itu, yang tradisional: dengan singkat,”sesuatu yang dimapankan oleh tradisi” (Gonda 1973:499 via Atikson, 2002:35). Kedua, agama adalah nama yang diberikan kepada kitab-kitab yang terkait dengan penyembahan sektarian terhadap Siwa, Sakti dan Wisnu (Sarma 1953:7-10 via Atikson, 2002:35)

Arlina G. Latif (2003:3-9) mengemukakan agma adalah kepercayaan kepada, pengakuan akan adanya, kesadaran akan adanya Tuhan (apapun sebutan-Nya) yang “menciptakan”, “memiliki” dan Mengatur” serta mengendalikan alam semesta beserta isinya. Selanjutnya dipaparkan bahwa agama berisi ajaran kebaktian, ibadat, ritual dalam rangka berhubungan dengan Tuhan sesuai keyakinan tertentu. Agama berisi ajaran tentang panggilan hak dang kewajiban yang patut dilakukan oleh penganutnya dalam kehidupan ikhlas (pilihan, bukan paksaan). Pada dasarnya agama berkenaan dengan hal-hal yang berhubungan dengan sanubari.

Agama Adat Dayak

Agama adat merupakan sistem kepercayaan orang Dayak terhadap ketuhanan mereka berdasarkan pada pengetahuan setempat atau yang di anggap mereka “tidak dipengaruhi” oleh unsur asing, memiliki tokoh pemimpin, dan “kitab suci” tak tertulis atau bahasa lisan yang mengacu kepada ritual-ritual adat mereka. istilah agama adat mencakup batasan saling inheren antara keagamaannya dengan kebudayaannya.

Posted in Sistem Kepercayaan | Leave a comment

Perjalanan Menuju Kata “Dayak”

Pernah ada berbagai istilah tertulis yang maknanya merujuk pada orang-orang asli yang tinggal di Pulau Kalimantan. Istilah-istilah tertulis tersebut antara lain adalah Daya’, Daya, Dyak, Dadjak, Dayaker,dan Dayak. Ada pihak yang menyatakan bahwa penulisannya harus dengan menggunakan tanda petik tunggal (aiy khpostrof) di akhir kata, yaitu Daya’ sebab bunyi konsonan akhirnya merupakan bunyi hamzah yang dihasilkan oleh celah suara, bukan pada lelangit lunak. Dalam bahasa yang dimiliki pihak ini terdapat kata-kata yang maknanya dibedakan karena adanya perbedaan kedua bunyi hamzah dan bunyi [k]. Misalnya pada bahasa Dayak Kanayatn Banana’ terdapat kata bobo yang artinya ‘kuah sayur’, bobo’ yang artinya ’mengintip’, dan bobok yang artinya ’lubang telinga pada babi’. Namun ada yang berpendapat juga bahwa penulisannya adalah Daya tanpa apostrof dan huruf /k/. Pihak yang lain menegaskan bahwa tulisannya yang tepat adalah Dayak.

Jika kita telusuri asal muasal istilah Dayak1 dan pengertiannya pada berbagai kelompok masyarakat yang ada di Kalimantan Barat terdapat berbagai variannya, yaitu Daya’, Doya’, Dayo’, dan Dayuh yang berarti ’hulu’ dan ’manusia’. Ka daya’ atau ka dayo’ artinya ’ke hulu’. Ada juga yang artinya lain, misalnya ’darah’. Pengertian ini kemudian dihubungkaitan dengan cara hidup, lokasi perkampungan orang-orang Dayak pada masa purba, ketika orang-orang Dayak pada waktu itu kebanyakan tinggal di kawasan pegunungan, dataran tinggi, dan di hulu-hulu sungai. Sementara kelompok masyarakat yang dimaksudkan dengan berbagai istilah tersebut di atas, cenderung menyebut dirinya orang hulu, orang darat, orang pedalaman, bahkan ada yang menjawab dengan polos menyebut dirinya orang kampung hanya karena alasan sederhana mereka kebanyakan hidup di kampung. Dulunya, mereka tidak mengenal istilah Daya’, Dyak, Daya, atau Dayak untuk menyebut identitas mereka. Bahkan, mereka sadar bahwa penyebutan Dayak dari pihak luar yang ditujukan kepada mereka itu memiliki makna jorok, kotor, terbelakang, bodoh, dan sebagainya.

Di Malaysia dan Brunai Darussalam hingga dekade 1940-an tidak mengenal sama sekali tiga atau lebih istilah ini. Pada kedua negara ini ada termonologi yang kerapkali digunakan untuk merujuk pada kelompok masyarakat yang mempunyai ciri-ciri yang sama, yaitu puak. Dengan demikian, ada puak Iban, Kayan, Bidayuh, Murut, Khadazan Duzun dan lain sebagainya. Istilah Dayak mulai dikenal pada kedua negara tersebut ketika peneliti Eropa masuk dan menerbitkan hasil penelitiannya tentang kehidupan beberapa suku asli di Pulau Borneo atau Kalimantan tersebut. Beberapa subsuku Dayak tersebut kemudian dikelompokkan dalam dua kelompok karena memiliki ciri-ciri yang cenderung sama yakni Land Dayak dan Sea Dayak. Kedua pengelompokkan ini jika diterjemahkan secara harafiah, artinya ’Dayak Darat’ dan ’Dayak Laut’.

Seiring dengan perkembangan zaman, istilah Daya’, Dyak, atau Dayak semakin luas dikenal, manakala tulisan kisah perjalanan para imprealis dan para peneliti Eropa mulai dipublikasikan baik dalam tulisan bahasa asing maupun terjemahan. Munculnya berbagai istilah inilah yang memicu perdebatan berbagai pihak. Hal ini menginisiatifi Institute of Dayakology Research and Development (pada tahun 1998 berubah nama menjadi Institut Dayakologi) pada tahun 1992 untuk memprakarsai sebuah pertemuan di Pontianak yang dinamai Ekspo Budaya Dayak.

Pertemuan ini melibatkan seluruh tokoh dan intelektual Dayak dari berbagai wilayah Pulau Kalimantan termasuk Malaysia dan Brunei Darussalam. Berbagai agenda dibahas dalam pertemuan Ekspo Budaya Dayak ini dan salah satunya ialah berhasil menyepakati istilah Daya’, Dyak, Daya atau Dayak menjadi Dayak yang sebelumnya masih simpang siur penggunaannya baik dikalangan masyarakat Dayak maupun diberbagai media massa terutama media massa Indonesia. Seiring dengan perkembangannya,istilah Dayak mulai memasyarakat luas terutama di kota-kota provinsi, kabupaten, hingga ibukota kecamatan yang umumnya dapat dijangkau oleh media massa. Kata Dayak telah secara luas disepakati penulisannya demikian.

Posted in Manusia Dayak | Leave a comment

Subsuku dan Bahasa Dayak

Dayak adalah suku asli Pulau Kalimantan, lebih tepat lagi adalah yang memiliki budaya terestrial (daratan, bukan budaya maritim). Sebutan ini adalah sebutan umum karena suku Dayak sesungguhnya masih terbagi lagi kedalam beberapa subsuku dan bahasa. Di Kalimantan Barat orang Dayak bisa di jumpai di semua kabupaten.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Institut Dayakologi, ditemukan bahwa ada 151 subsuku dan bahasa Dayak di Kalbar. Sementara itu Tjilik Riwut, Gubernur pertama Provinsi Kalimantan Tengah dalam bukunya Dayak Membangun, menyebutkan ada 405 subsuku Dayak yang hidup di Pulau Kalimantan (Borneo)

Berikut adalah nama-nama subsuku Dayak menurut hasil penelitian Institut Dayakologi

1 Angan 51 Keneles 101 Pruwan
2 Badat 52 Keninjal 102 Punan
3 Bakati’ 53 Kenyilu 103 Punti
4 Balantiatn 54 Kepuas 104 Randu’
5 Banyadu’ 55 Kerabat 105 Ransa
6 Banyuke 56 Keramay 106 Rantawan
7 Barai 57 Ketior 107 Rembay
8 Batu Entawa 58 Ketungau 108 Salako
9 Baya 59 Ketungau Sesae’ 109 Sami
10 Beginci 60 Kodatn 110 Sane
11 Behe 61 Koman 111 Sangku’
12 Benawas 62 Konyeh 112 Sapatoi
13 Bi Somu 63 Kowotn 113 Sawi
14 Bihak 64 Krio 114 Sebaru’
15 Bubung 65 Kubitn 115 Seberuang
16 Bugau 66 Lamantawa 116 Sekajang
17 Buket 67 Lau’ 117 Sekapat
18 Bukit-Talaga 68 Laur 118 Sekubang
19 Butok 69 Laya 119 Sekujam
20 Dait 70 Lebang 120 Selawe
21 Daro 71 Lemandau 121 Selibong
22 Desa 72 Liboy 122 Senagkatn
23 De’sa 73 Limbai 123 Sengkunang
24 Dosatn 74 Linoh 124 Seritok
25 Ella 75 Mahap 125 Sikukng
26 Ensilat 76 Mali 126 Silatn Muntak
27 Entabang 77 Mayan 127 Simpakng
28 Gerai 78 Mayau 128 Sisang
29 Gerunggang 79 Melahoi 129 Sontas
30 Golik 80 Mentebah 130 Suaid
31 Goneh 81 Menterap Kabut 131 Sum
32 Gun 82 Menterap Sekado 132 Suru’
33 Hibun 83 Mentuka’ 133 Suruh
34 Iban 84 Mualang 134 Suti
35 Inggar Silat 85 Muara 135 Taba
36 Jagoi 86 Mudu’ 136 Tadietn
37 Jalai 87 Nahaya’ 137 Tamambalo
38 Jangkang 88 Nanga 138 Taman
39 Jawatn 89 Nyadupm 139 Taman Sekado
40 Joka’ 90 Oruung Da’an 140 Tameng
41 Kalis 91 Panu 141 Tawaeq
42 Kanayatn 92 Pangin 142 Tayap
43 Kancinkng 93 Pantu 143 Tebang
44 Kantu’ 94 Papak 144 Tebidah
45 Kayaan 95 Paus 145 Tengon
46 Kayan 96 Pawatn 146 Tinying
47 Kayong 97 Paya’ 147 Tobak
48 Kebahan 98 Pesaguan 148 Tola’
49 Keluas 99 Pompakng 149 Ulu Sekadau
50 Kendawangan 100 Pruna’ 150 Undau
151 Uud Danum
Posted in Subsuku dan Bahasa Dayak | Leave a comment